Sunday, March 24, 2013

GBK. Again.


Buat gw, Gelora Bung Karno adalah salah satu tempat paling magis yang ada di dunia ini. Nyaris gak pernah sekalipun gw masuk ke stadion ini tanpa merasa merinding (Even pas nonton konser ogah-ogahan YellowCard dulu pun tetap ada rasa merinding saat masuk dan melihat isi stadion megah ini).

Jadi, saat Indonesia akan menjamu Arab Saudi di lanjutan Kualifikasi Piala Asia hari Sabtu, 23 Maret 2013, gw pun amat sangat berharap bisa datang dan kembali berteriak-teriak di salah satu dari puluhan ribu kursi keramat di dalamnya.

Dengan keberuntungan dan kebaikan teman, I got that freakin ticket. Gak murah. Untuk level kualifikasi, angka 200,000 untuk kategori 1 jelas lumayan tinggi. I don’t really care tho. Yang penting bisa masuk dan nonton timnas main. Udah kangen. Terakhir kali adalah pas away days AFF 2012 di Malaysia bulan Desember lalu.

Beda dengan pas away days, kali ini atmosfir GBK luar biasa. Dari (katanya) 70ribu tiket yang disediakan, sepertinya nyaris semuanya terjual. Stadion Gelora Bung Karno pun kembali penuh. Padat di luar. Padat di dalam. Padahal, hujan deras datang menghampiri beberapa jam sebelum kick off.

Dengan kondisi basah kuyub dan salah kelas duduk -We ended up sitting in Category 2 (100,000), while our tickets are Category 1-  gw dan teman-teman siap untuk kembali sakit hati untuk ke sekian kalinya.

Tapi setipis apapun itu, harapan tetaplah harapan. Jadi… Kami pun berharap akan ada sesuatu bernama keajaiban (Jangan ditiru. Setipis apapun harapan, it still… hurts).

Setelah kembali merinding menikmati nyanyian choir ‘Indonesia Raya’ puluhan ribu orang yang dilanjutkan dengan flare menyala dari berbagai sudut stadion, pertandingan dimulai.

Sesuai dugaan, Arab Saudi langsung menguasai serangan. Namun di awal-awal pertandingan, tanda-tanda keajaiban itu muncul. Saat Arab lupa kalau Indonesia ternyata punya kemampuan menyerang, defender mereka melakukan kesalahan fatal dan Boaz pun membawa timnas Indonesia unggul. GBK bergetar. Literally.

Merayakan gol bersama puluhan ribu orang adalah suatu hal yang luar biasa. It felt amazing. Di tengah euforia semacam ini, kami nyaris lupa kalau gol tadi bisa jadi hanyalah harapan palsu belaka. Seperti yang terus diberikan oleh tim ini selama bertahun-tahun.

Benar saja. Timnas kemudian tampil medioker. Padahal, katanya, ini adalah tim terbaik yang bisa dikumpulkan saat ini. Tidak seperti tim yang turun di AFF ataupun pra-piala dunia kemarin.

Tidak ada yang istimewa. Lini tengah timnas seperti lupa datang ke GBK. Kerja keras lini belakang dan upaya lari-lompat para pemain depan terasa sia-sia. Passing buruk, tidak ada penguasaan bola yang meyakinkan, dan Ponaryo Astaman seolah tertelan bumi.

Arab Saudi menemukan ritme mereka dan membunuh Indonesia dengan dua gol balasan. Could, and should, be more.  Sementara upaya timnas untuk menyerang (bahkan saat memainkan empat striker), terlihat lebih seperti usaha membuang-buang bola. Sia-sia.

Sebuah keajaiban lain adalah bisa melihat Ponaryo tampil hingga beberapa menit menjelang injury time. (WHY OH WHY). I personally miss Taufik. Tapi kehadiran Bustomi sebenarnya juga bisa menjadi pilihan yang lebih oke jika diturunkan lebih awal.

Lalu, kecepatan Andik yang bisa berguna di menit-menit akhir pun tidak dimanfaatkan. The-So-Called-Indonesian-Messi pun duduk di bench hingga peluit akhir dibunyikan.

Ah. Peluit akhir.

Gw bukan orang yang percaya dengan label kalah terhormat. Kalah adalah kalah. Period. Tapi ada saat di mana kita menerima kekalahan dengan merasa tersentuh dengan perjuangan super keras para pemain di lapangan. Itu yang gw rasakan dulu saat menyaksikan anak-anak asuh Nil Maizar bermain di AFF. They’re shite. But they fight superbly.

Last night. I don’t know. Mungkin karena ekspektasi yang terlalu tinggi. Mungkin karena kesal ngeliat beberapa potensi pemain tidak sempat keluar secara maksimal. Mungkin karena gw rindu dengan kemenangan di GBK. Yang pasti, saat untuk kesekian kalinya melangkah lunglai keluar GBK, I felt… weird.

Padahal, sejak awal, I know we’re gonna lose from Arab Saudi and I know my heart gonna be broken again for the-I’ve-lost-count times.

 “Hari ini Pasti Menang”, my ass. I believe we need a new chant.

Lalu… Apakah gw akan kembali lagi untuk nonton Timnas Indonesia main di GBK atau bahkan away?

Of course. I’m in love. And will always be. So, I have every right to be irrational and idiotic.

Sunday, November 11, 2012

Jakarta Hati: Sebuah Gol Kedua yang Cantik

Jakarta Maghrib adalah gol perdana Salman Aristo yang brilian. Dan dengan Jakarta Hati, dia ngebuat gol kedua yang bahkan lebih cantik lagi.

Jakarta Hati dibuka dengan chemistry super awkward antara Surya Saputra dan Asmirandah. Easily my favorite part of the whole movie. Sedikit ngingetin gw sama before sunrise/sunset, dengan chemistry yang far less. Tapi justru ini bikin segalanya jadi lebih menarik.

Bagian-bagian selanjutnya juga gak kalah menarik. Kali ini, Mr. Aristo lumayan sukses ngebuang kekakuan yang masih sering muncul di 'Maghrib'. Kritik sosial, kehidupan sehari-hari yang sederhana, diskusi cerdas, semuanya sukses diramu dalam gado-gado paling enak tahun ini.

Satu yang membuat gw senang adalah ada bagian di mana kamera memutuskan tidak bergerak, lampu memutuskan untuk mati (we can't even see the actor and actress's faces), dan penonton masih bisa terpaku ke depan layar, menyimak apa yang mereka debatkan. For me, it's a touch of genius.

Ditutup dengan satu bagian yang, literally, berisik. Jakarta Hati membuat gw berpikir, tertawa, tersentuh, dan terhibur dalam waktu  bersamaan.

A really great goal.

Now, i'm waiting for your hattrick, Mr. Aristo!

Friday, November 2, 2012

Love Is That Kind Of Thing...

The kind of thing that makes you singing all day long, smiling all month long, and shining all year long.

The kind of thing that makes you cranky all day long, crying all month long, and gloomy all year long.

The kind of thing that makes you crave for more. Every second, every minute, every hour, and every day.

The kind of thing that makes you screaming for less. Every second, every minute, every hour, and every day.

The kind of thing that makes you insecure, nervous, excited. All at the same time. All at the same mind.

The kind of thing that makes you realizes that gravity actually existed. And we can't resist it. Even for a bit.

The kind of thing that makes you fall. And enjoying the fall. And addicted to the fall.

The kind of thing that makes you hurt. Yet still coming back for more. And more. And more. And more.

The kind of thing that makes you love your life.

The kind of thing that makes you hate your life.

Love is that kind of thing.

And much more.

Sunday, October 28, 2012

1 Meja, 2 Kursi, Secangkir Kopi Hangatmu

Setiap Selasa. Di tempat yang sama aku melihatmu duduk. Menyeruput kopimu. Berbincang manis. Menebar keindahan.

Kursi sebelahmu selalu berisi. Tidak pernah sama. Namun selalu berisi. Dan tatapan mereka tidak pernah lepas dari wajahmu.

Seperti juga tatapanku. Melihat dari jauh. Menatap ingin. Tanpa kesempatan. Tanpa keberanian.

Ke 1 meja. 2 kursi. Dan Secangkir Kopi Hangat-mu.

Hingga suatu Selasa. Kutemukan dirimu duduk sendiri. Dan aku membeku. Menanti.

5 menit.

10 menit.

15 menit.

30 menit.

45 menit...

Halaman majalahmu mulai menipis. Kopi mu semakin tiris. Ku masih mencari kesempatan. Kutemukan keberanianku.

Kuhampiri 1 meja, 2 kursi, dan secangkir kopi hangat-mu.

Kusodorkan tanganku.

Dan kau berkata, "Short Time?"

Friday, January 27, 2012

Liverpool FC: Anomali Merseyside Merah

This could be their year.

Ucapan tersebut selalu muncul mengenai Liverpool nyaris di setiap awal musim. Faktanya? Sudah sangat lama semenjak terakhir kali mereka juara Liga Inggris. Bahkan dari terakhir kali mereka menjuarai Liga Champions yang begitu dibangga-banggakan pendukungnya pun, rasanya sudah sangat lama.

Jangankan memenangi Liga Champions, nama Liverpool sudah tidak ada dalam daftar tim yang bertarung di turnamen paling bergengsi di Eropa tersebut. Dan mereka masih berusaha keras untuk kembali ke turnamen tersebut.

Liverpool adalah sebuah anomali. Dari sebuah tim yang sudah terlalu terbiasa berada di empat besar menjadi sebuah tim yang belakangan duduk di papan tengah dan hanya berfungsi mengganggu langkah beberapa tim besar di atasnya. Mereka kini bertarung dengan semacam Everton, Aston Villa, dan Newcastle United di klasemen.

Berat bagi para fans mereka saat ini. Tapi inilah faktanya. Musim ini menjadi sebuah bukti luar biasa jelas mengenai anomali The Reds. Anak-anak asuh Kenny Dalglish ini mampu tampil gemilang saat menghadapi tim-tim semacam Arsenal, Chelsea, Manchester United, dan bahkan Manchester City. Tapi kehilangan poin saat melawan Norwich City, Stoke City, Bolton Wanderers dan semacamnya.

Anfield yang biasanya mengerikan pun kini sedikit mengenaskan. Para fans setia Liverpool kesulitan menyaksikan tim mereka menang di kandang. Hasil imbang menjadi satu warna yang sangat dominan di sana musim ini. Kiper tim lawan seringkali mendadak menjadi sangat hebat saat bermain di sana. Dan tiang gawang pun menjadi musuh besar lain Charlie Adam cs.

Meski begitu, akhirnya Liverpool mendapatkan sesuatu untuk dirayakan musim ini. Mereka berhasil lolos ke New Wembley untuk pertama kalinya. Ajangnya mungkin hanya Piala Carling, tapi ini menjadi sesuatu yang cukup menyegarkan bagi para fans. Terutama karena yang disingkirkan adalah Manchester City –tim pemuncak klasemen Liga Premier musim ini.

Ini lagi-lagi menjadi bukti keanehan Liverpool. Mereka mampu bermain hebat nan heroik saat melawan tim sebesar City dan melempem luar biasa saat melawan Bolton. Hal semacam inilah yang membuat mereka terdampar di posisi ketujuh klasemen dan cukup jauh dari posisi empat besar –incaran minimal demi kembali ke Liga Champions.

Konsistensi untuk tidak bermain konsisten. Oksimoron memang, tapi inilah yang cocok untuk menggambarkan Liverpool musim ini. Sebuah rollercoaster yang membuat para fansnya senang dan pusing dalam waktu nyaris sama.

Dari segi pemain, tidak ada masalah besar. Merseyside Merah punya deretan pemain tengah yang bisa membuat iri tim manapun di dunia. Lini belakang mereka pun cukup kuat –meski beberapa kali terlihat bolong.

Di depan? Well. Dari segi nama-nama yang ada, Dalglish seharusnya tidak perlu protes. Ada Andy Carroll, Luis Suarez, dan bahkan Craig Bellamy. Sayangnya, yang pertama bermasalah dengan gawang di lapangan sedangkan yang kedua bermasalah dengan mulut dan tindakannya. Beruntung, Bellamy belakangan kembali menemukan permainan terbaiknya.

Akhir pekan ini, Liverpool akan menjamu Manchester United di Piala FA. Salah satu pertandingan di tanah Inggris yang hype-nya terkadang lebih besar dari pertandingan itu sendiri. Kemenangan akan menjadi awal yang bagus bagi Reds untuk semakin memperbaiki musim mereka. Meski tidak akan berarti apa-apa jika mereka kembali kalah dari, err, Wolves misalnya.

Ini adalah kesempatan besar bagi mereka untuk membuktikan diri, menghentikan kutukan Anfield, dan menghindar dari anomali yang membuat mereka semakin terpuruk di akhir musim nanti.

Mampu? Hanya waktu yang bisa menjawab.

(dimuat di www.supersoccer.co.id -27/01/2012)

Friday, January 20, 2012

Menilai Kembalinya Scholes dan Henry di Liga Premier

Mendatangkan pemain senior atau bahkan yang sudah pensiun berarti satu hal bagi sebuah klub: mereka membutuhkan solusi instan.

Itulah yang dilakukan oleh Manchester United dan Arsenal saat memutuskan untuk ‘mengembalikan’ Paul Scholes dan Thierry Henry ke dalam skuad mereka. Keduanya adalah legenda hidup dan punya pengaruh yang sangat besar. Dan itulah yang mereka harapkan akan datang saat keduanya tampil kembali membela klub lama mereka ini.

Henry dipanggil kembali dalam jangka waktu super pendek. Hanya dua bulan saja. Dengan status pinjaman dari klub MLS, New York Red Bulls, ia disiapkan sebagai pengganti Marouane Chamakh dan Gervinho yang harus absen beberapa waktu karena ajang Piala Afrika.

Sementara Paul Scholes keluar dari masa pensiunnya dan kembali ke United setelah masalah lini tengah sang juara bertahan semakin memburuk. Dengan tidak adanya dana –atau lebih tepatnya niat- untuk membeli pemain baru, Scholes pun diharapkan bisa menjadi penyelamat dalam kontraknya hingga akhir musim nanti.

Jadi, karena ini adalah sebuah proyek jangka pendek dengan target sukses jangka pendek pula, maka rasanya layak untuk menilai penampilan keduanya hanya berdasarkan dua pertandingan perdana mereka.

Henry muncul di Arsenal dengan penuh gaya. Ia tampil menghadapi tim Championship, Leeds United, di Piala FA pada babak kedua dan langsung mencetak gol kemenangan. Sebuah hadiah kedatangan kembali darinya untuk para fans dan Arsene Wenger. Then again, lawannya ketika itu adalah tim divisi di bawah Liga Premier dan hanya di ajang Piala FA.

Tantangan sebenarnya muncul beberapa hari kemudian saat Arsenal bertandang ke Swansea City di Liberty Stadium. Timnya dihantam permainan luar biasa sang tim promosi dan Henry diharapkan bisa mengubah keadaan saat masuk di babak kedua. Tidak banyak membantu. The Gunners tetap kalah memalukan 2-3.

Di Manchester United, Paul Scholes memulai debut ulangnya saat menghadapi Manchester City di Piala FA dengan… sebuah blunder. Kesalahannya sempat membuat City mampu menciptakan gol dan membuat hidup United dalam sisa pertandingan tersebut menderita. Beruntung, The Red Devils tetap mampu menang dengan skor 3-2.


Kesalahan tersebut tidak membuat Sir Alex Ferguson kehilangan kepercayaan. Ia justru memberikan satu tempat di starting XI saat United menghadapi Bolton Wanderers akhir pekan kemarin. Scholes membayarnya dengan sempurna. Publik Old Trafford menyaksikan kembalinya pahlawan mereka dengan sebuah gol pembuka kemenangan telak 3-0.

Then again. Lawan mereka kali ini adalah tim yang sedang berjuang keras menghindari zona degradasi.

Jadi, bagaimana penilaian awal bagi para legenda yang rela turun gunung untuk kembali membela klub yang mereka cintai ini?

Henry jelas bukanlah pemain yang sama dengan yang pernah Arsenal miliki dulu. Meski begitu, keberadaannya memberikan aura positif dalam skuad dan inilah yang diincar oleh Wenger –selain golnya di lapangan tentu saja. Sayang, aura positif saja ternyata belum cukup untuk membawa timnya ke jalur kemenangan di Liga.

Scholes masih tetap Scholes. Enam bulan ‘berlibur’ tidak memberikan banyak perubahan. Kemampuan passing-nya tetap yang terbaik. Dan kemampuan tackle-nya tetap yang terburuk. Dan, oh, he really can scores. Untuk sementara, keputusan membawa kembali Scholes cukup bisa membantu United. Meski masih banyak yang harus dibuktikan. Terutama jika melawan tim yang lebih besar dari Bolton.

Akhir pekan ini akan menjadi ajang pembuktian keduanya. Seolah sedang melihat sebuah kelompok musik besar mengadakan tur reuni mereka, maka Emirates Stadium pun akan melihat benturan kedua legenda dan akan membuat banyak orang berpikir mereka menyaksikan re-run Arsenal vs United di tahun 2004 silam.

Apapun itu, kembalinya kedua legenda ini adalah sebuah warna yang mengejutkan di Liga Premier musim ini. Dan di tengah sepakbola yang semakin diatur dengan uang dan kerakusan para pemain beserta agen mereka, romantisme semacam ini bisa menjadi sebuah bumbu yang manis bagi fans di manapun.

*dimuat di www.supersoccer.co.id (20/01/2012)

Wednesday, January 18, 2012

Pacar is Overrated

Beberapa hari yang lalu, gw dapat email penawaran speed dating (I haven’t send it back, should i?) dan hari ini, pagi-pagi twitter ramai dengan Bisnis Rental Pacar.


What’s with people and relationship sih?


Belakangan ini, punya relationship alias pacar kayaknya jadi kebutuhan premier. Levelnya udah sama dengan makanan sama napas.

Kenapa? I blame the social media and the environment sih. Dulu sempat ada masa di mana orang gak peduli-peduli amat punya pacar atau enggak. Ada ya syukur, kalo gak ada ya udahlah ya.

Sekarang? Jomblo sebentar aja galaunya udah sama kayak orang yang gak pernah pacaran seumur hidupnya. Ditambah lagi akun-akun twitter yang semuanya galau. Radio galau, hantu galau, bahkan akun sepakbola juga galau. Temanya nyaris sama: gak punya pacar.

And people enjoy that. Menikmati ngeliat orang lain gak punya pacar menderita. Dan kemudian mendorong diri sendiri untuk heboh nyari pacar.

Setelah punya pacar? Saatnya show off. Punya pacar dan bahagia. Dan orang-orang akan ngeliat dia dengan berbeda.
Really? Pfft.

Singles can be awesome. And relationship is (can) always (be) hell.

Jadi kenapa begitu banyak orang sangat ingin segera punya pacar? Atau ingin “kelihatan” punya pacar? Image pastinya. Kan kalau bisa dipamerin di twitter, image “Jomblo Ngenes nan Galau” bisa dicopot. Dan kasta sosial pun meningkat.


People, Pacar is overrated.
But let’s face it. We LOVE overrated things.