Friday, June 24, 2011

Insidious: Mediocre Horror Movie with a Some Twist



This is a horror movies. Scores 7 on IMDB. And created by the people who brought us Paranormal Activity and Saw.

Jadi gak ada alasan buat gw untuk gak nyoba nonton.

Ceritanya tentang satu keluarga yang baru saja pindah rumah. Dan setelah sebuah insiden kecil, anak laki-laki mereka tidak bisa bangun dari tidurnya. Selanjutnya, keluarga –terutama sang ibu- mulai dihantui berbagai bentuk makhluk aneh. Dengan penuh paksaan, mereka pun terpaksa pindah rumah (lagi).But apparently, it’s not the
house that haunted.

All in all. Ini sebuah film horor yang cenderung medioker. Polanya ketebak. Dan dalam beberapa poin malah cenderung ngebosenin.

Tapi Insidious juga punya beberapa stand-out point. Well, at least rasa ngeri dan teror sukses muncul dalam banyak scene. Tense-nya juga ada. Dan endingnya juga shocking. Literally.

Despite that, nothing special. Lebih ke nonton Paranormal Activity dengan “sedikit” jalan cerita yang “sedikit” misterius. Penampakan hantu2-nya bisa ditebak, ngomong2-nya terlalu banyak, dan sempat dataaaar banget di tengah-tengah.

The idea was nice. The horror-feels was there.
But still, something not quite right with this movie in my opinion. Just one horror movie that will passed by and forgotten in a few weeks.

Worth a watch? Maybe. Especially if you’re looking for some thrill and horror.

If you’re looking for something special? Nothing.

Rate: 5/10

Wednesday, April 27, 2011

Limit

I’ve talk about this before –in such an emotional way.

But, for now, let’s see it in clearer way.

Everyone’s has their own limit, eh?

Me, you, him, her, them, everyone.

Some are short, some are long, some are too-long-that-you-imagine-they-dont-have-any.

But they do. Oh yes. They do.

They just hiding it, ignoring it, avoiding it.

With so many different reasons. From the most rational one, until the clearly-irrational (and stupid) one.

These reasons will keep coming, until they running out of it.

And at that time, the limit are unavoidable.

The blow up won’t be nice to see. Or face for some matter.

So, which one are you?

And which one is the person closest to you?

Monday, April 18, 2011

This Is A Curhat Post

You've been warned.

Post ini isinya curhatan penuh kelabilan dan kegalauan.

If you've read me galau/labil/nyampah in twitter or plurk or anywhere else and feel the urge to vomit, please don't read this one.

i'm on my weirdest moment right now.
feeling-wise.

i don't know what to feel, i don't know what to do, i don't know what to expect.

yes. i've signed for this rollercoaster.
when i'm entering it, there's a huge sign posted there in the front door.
so, i know one way or another, this kind of thing will happen.

well, i entered it anyway. i'm enjoying it, to be honest.
...enjoying it too far perhaps.
in fact, i love being inside it.

but there's moment like this.
there's always moment like this when i feel like i need the earth to eat me and sunk me alive.

first punch, i can get up. second punch, i'm hang on to it. third one? everyone's has a limit, aren't they?

so now, i'm laying on the ground, feeling hurt, feeling un-easy, feeling confused. and even a bit sick.

and sadly, it seems i'm the only one who felt this way for now.

i thought this was a game for two...

i need someone to pick me up. whether with words, or any little thing that mattered.

i know that i've made the mistakes. maybe one too many.
but, again, when you signed up for this, you know exactly this'll happen. and you agreed to face this together, as i am facing yours.

this blah-blah-blah post has gone everywhere. without even any clear point. you might as well call this a confused post.

this is a pointless-curhat-session of someone who's unstable enough to write anything clearly.

but of course, you've been warned.

Friday, April 15, 2011

Hello, Blog... I'm back.

Udah bulan April 2011.

...dan ini postingan pertama tahun ini.

So much for #365tulisan2011 --"

Anyway, lately, i got some pretty huge urge to start writing again. or should i say, blogging again.

the only interesting thing for now is, i finally move to another job.

It was one hell of tough decision.

decision between working, or jobless...

And also there's another offers from others.

feels like i'm walking around and then facing a LOT of ways to choose. and i have no idea which one to choose, and where would that ways go in the future.

Yet again. That's life, eh?

No matter what happen, you got to make a choice.

whether it's a right choice, or the wrong one.

And for this, I think, or i hope, i've made the right one...

Ciao for now... I really think i'll catch up with this blog pretty soon...

p.s: SAYA SUDAH LULUS DAN PUNYA IJAZAH LOOHHH!!! Wuhuuuu.... :D

Monday, November 29, 2010

Roller Coaster Carlo Ancelotti

Carlo Ancelotti. Nama ini baru beberapa pekan silam masih terus dipuji-puji sebagai salah satu pelatih terbaik yang pernah menukangi Chelsea. Sekarang? Rumor ia akan didepak -atau mengundurkan diri- terus berembus kencang.

Selamat datang di rollercoaster manajer liga Inggris.

Menu yang ada di depan kita saat ini adalah salah satu pelatih paling berpengalaman dan sukses di ajang sepakbola eropa: Carlo Ancelotti.

Sang pelatih Chelsea ini mengawali karirnya di Inggris dengan cerita indah. Gelar ganda diraihnya di musim perdana. Liga Premier dan Piala FA. Hanya satu yang terlewat. Liga Champions.

Itu cerita musim lalu. Musim ini, tim biru dari London ini mengawali musim dengan... brilian. Kemenangan dengan angka telak dan kebobolan minim menjadi hobi. Dan orang-orang pun dengan terlalu dini menyebut Chelsea akan merebut juara lagi musim ini.

Perjalanan liga Champions mereka pun tidak kalah mengkilap. Kata kalah sepertinya sulit ditemukan dalam kamus milik John Terry dan kawan-kawan. Hingga beberapa pekan yang lalu, inilah kondisi Chelsea.

Tiba-tiba, bak petir di siang bolong, asisten pelatih Ancelotti, Ray Wilkins dihentikan dari jabatannya. Dan di sinilah 'Kutukan Wilkins' dimulai. Sang juara bertahan kalah di dua pertandingan secara berurutan. Dari tim semacam Sunderland dan Birmingham. Beruntung, rekor jelek ini berhenti dengan satu kemenangan atas Zilina yang mereka raih di Liga Champions kemarin.



Kata 'Kutukan Wilkins' mungkin terdengar magis. Jadi, apa sebenarnya masalah Chelsea?

Kondisi internal mereka ternyata tidak sebagus penampilan mereka di lapangan (di luar dua kekalahan itu...) cukup menjelaskan. Sang pelatih mengadu ke media bahwa ia seolah diabaikan dalam pengambilan keputusan belakangan ini. 'Keputusan' ini tentu saja... Masalah pemecatan Wilkins.

Intervensi dari para petinggi ternyata masih sangatlah kuat. Dan bahkan seorang pelatih sekelas Ancelotti pun sama sekali tidak punya kuasa untuk menjalankan tim dengan nyaman. Contoh 'sederhana' lainnya, kedatangan Ramires ke Stamford Bridge dari Benfica, diakui Don Carletto di luar pengetahuannya. Ia sama sekali tidak dilibatkan. Kondisi ini jelas bisa membuat siapapun meledak. Dan keluhan Ancelotti ke pers jelas bukan sesuatu yang mengherankan.

Kini, ia seolah-olah sedang membuka jalan dan pintu keluarnya sendiri dari Chelsea. Meski ia menegaskan tidak dalam waktu dekat. Namun, para pengamat menilai ia akan segera hengkang akhir musim ini. Paling telat.

Sebuah keadaan yang terdengar familiar?

Mari kita mundur beberapa tahun dan saya akan menyebut satu nama: Jose Mourinho.



Orang ini melakukan segalanya. Ia membangun kembali Chelsea menjadi kekuatan yang ditakuti di Inggris dan Eropa. Dengan hadiah juara Liga setelah entah berapa lama tim ini tidak merasakannya. Yang ia dapat? Dibuang di tengah-tengah pekerjaan. Mou memang belum bisa memberikan gelar Liga Champions, dan saat itu performa Chelsea memang sedang menurun. Tapi rasanya kita tidak cukup buta untuk melihat alasan sebenarnya.

Lagi-lagi intervensi dari atas. Seorang pelatih dengan tingkah laku seperti Mou jelas tidak bisa dipaksa terus menerus. Ia suka melakukan segalanya dengan cara yang ia percayai benar.

Abramovich tidak seperti itu. Ia ingin segalanya instan. Dan ingin agar investasinya berbuah segera. Tipikal pebisnis. Tidak puas dengan Liga Premier, ia ingin Liga Champions. Segera.

Kita semua tahu akhir cerita ini. Jose Mourinho dilepas. Pindah ke Inter Milan. Dan meraih trofi yang diidam-idamkan si orang rusia ini.

Dan melihat kondisi sekarang, sepertinya sang taipan minyak masih belum belajar.

Berbicara soal tekanan dari atas, Ancelotti sebenarnya sudah cukup terbiasa.

Di hari-hari Milan-nya dulu, para petinggi klub bahkan ikut campur hingga sampai ke level taktik yang ingin ia mainkan di lapangan. Ia sempat 'dipaksa' untuk tampil lebih atraktif dan ofensif.

Keras kepala. Ia menolak untuk tunduk. Sempat membuktikan dengan gelar Liga Champions, ia akhirnya terlempar dari kursi Milan karena timnya tidak kunjung scudetto. Dan petualangan-nya di Liga Inggrispun dimulai.

Mari kembali lagi ke masa sekarang.

Saat ini kabut tebal masih menutupi masa depan Ancelotti di Chelsea. Tidak ada yang tahu. Apakah ia akan menjadi Mourinho selanjutnya? Ataukah ia bisa bertahan dari berbagai intervensi -yang jelas jelas mengganggunya.

Chelsea saat ini tidak bisa dibilang terlalu buruk. Dua kekalahan beruntun tidak menggoyahkan posisi mereka di puncak klasemen. Di Liga Champions pun mereka sudah memastikan diri melaju mulus dari fase grup.

Tapi segalanya masih bisa berubah. Kehidupan manajer di Liga Eropa modern sekarang tidak jauh beda dari wahana rollercoaster. Sesaat bisa berada di atas, sedetik kemudian terhempas lagi di bawah.

Jelas tidak bisa dibandingkan dengan nama-nama semacam Sir Alex Ferguson atau bahkan Arsene Wenger. Orang-orang 'tradisional' ini punya kuasa penuh terhadap klub yang mereka pimpin.

Ancelotti? Ia bahkan pernah menyebut, "Saya hanya seorang pelatih. Jangan bandingkan dengan posisi Ferguson di United"

Well... Waktulah yang akan menjawab kiprah Carlo Ancelotti di Chelsea. Entah di akhir musim nanti ia bisa menyelamatkan diri dengan menyumpal mulut para petingginya dengan trofi berwarna perak, atau menemui pintu keluar lebih cepat dari yang pernah siapapun bayangkan sebelumnya.

*posted in www.supersoccer.co.id 25/11/10

Masalah Besar Arsenal di Lini Belakang

Arsenal. Sang buah apel yang tidak kunjung ranum itu kini sedang menghadapi masalah baru. Lini belakang.

Tim London Utara ini sedang punya peluang yang sangat baik untuk menjadi juara musim ini. Posisi mereka terus stabil di papan atas klasemen dan terus mengancam dominasi Chelsea-Manchester United di atas mereka. Beberapa penampilan mereka pun memang menunjukkan bahwa tim ini punya potensi dan daya ledak yang luar biasa untuk meraih titel. Sang pelatih, Arsene Wenger, juga sempat menyebutkan timnya sudah punya segalanya yang dibutuhkan untuk menjadi juara di Liga Premier.

Pertanyaan sederhana yang muncul: Benarkah?

Melihat beberapa pertandingan terakhir, ada satu masalah yang muncul dan cukup mencolok terlihat dari anak-anak muda ini.

Kita sudah terbiasa dipertontonkan horror-show ala Arsenal di bawah mistar gawang. Blunder kiper menjadi warna yang biasa dalam setiap pertandingan mereka. Musim ini, Manuel Almunia dan Lukasz Fabianski tidak terlalu sering membuat blunder sendirian. Kali ini mereka justru dibantu oleh… tandem pemain yang berposisi persis di depan mereka.

Salah satu kelemahan utama Arsenal yang muncul di musim ini adalah rapuhnya lini belakang.

Kebijakan Wenger di awal musim untuk melepas beberapa pemain belakangnya dan membeli Laurent Koscielny dan Sebastien Squillaci belum terjustifikasi dengan baik.

Selain nama yang sama-sama sulit untuk dieja keduanya memiliki kesamaan. Terlihat impresif di awal musim, tapi semakin memburuk seiring musim berjalan.

Sebenarnya lini belakang Arsenal punya bek yang berkualitas tinggi dalam sosok Thomas Vermaelen. Tapi sayangnya, 'Verminator' masih harus terkapar entah sampai kapan di pinggir lapangan.

Para pemain-pemain muda yang dipasang untuk melengkapi tim ini juga mengkhawatirkan. Di satu pertandingan mereka bisa tampil luar biasa, dan pekan depannya bisa tampil kelewat buruk. Inkonsistensi jadi pilihan kata yang tepat untuk pemain-pemain ini. Secara umum lini pertahanan Arsenal bolong dimana-mana.

Di depan, tim ini punya tingkat ketajaman yang luar biasa. Dalam sebuah hari yang bagus, mereka bisa dengan mudah mencetak empat sampai lima gol ke gawang lawan mereka.

Masalahnya, kini lini belakang mereka menunjukkan performa penampilan mengkhawatirkan. Terbukti jelas di pertandingan terakhir, saat mereka membuang keunggulan 2-0 atas Spurs –sang rival abadi- dan harus rela kalah 2-3. Di kandang sendiri pula.

Para bek Arsenal terlihat lemah dan kesulitan menghadapi serangan pantang menyerah yang diperagakan lawan mereka, dan bukan yang pertama kalinya hal ini terjadi sepanjang di musim 2010/2011.

Sudah sering terlihat para bek Arsenal selalu kesulitan mengimbangi lawan yang mengandalkan fisik. Nama-nama semacam Didier Drogba dan Andy Carroll sudah menjadi bully yang terbukti sukses menghancurkan pertahanan Arsenal.

Dalam beberapa pertandingan, barisan pertahanan Arsenal sering terlihat tidak punya kekuatan apapun untuk mencegah gol tercipta di gawang mereka. Tiga kekalahan kandang dan musim baru berjalan seperempat menjadi biaya mahal untuk hal ini.

Solusinya?

Bola ada di tangan Wenger. Entah bagaimana caranya ia harus bisa memotivasi para pemain belakangnya untuk bisa tampil jauh lebih baik lagi. Terutama jika mereka masih ingin punya peluang merebut titel liga Inggris setelah puasa 6 tahun.

Solusi instan lain yang mungkin dipertimbangkan adalah dengan membeli pemain baru di bulan Januari nanti. Seorang pemain belakang yang sudah punya nama dan pengalaman yang cukup untuk menghadapi kerasnya persaingan di liga Inggris.

So, what are you going to do, Monsieur?

*posted in www.supersoccer.co.id 22/11/10

Jose Mourinho, Liga Spanyol, dan Obsesi

Barcelona punya obsesi tersendiri dengan Jose Mourinho. Dan Jose Mourinho juga punya obsesi dengan Barcelona. Dua kekuatan dahsyat di Sapnyol ini akan mendapat kesempatan untuk beradu di El Clasico nanti malam.

Beberapa waktu yang lalu, seseorang seolah telah menemukan sebuah kode paling penting sepanjang sejarah. Tertinggal di sebuah tempat duduk pemain cadangan di stadion tim yang kini berada di peringkat ke empat belas klasemen sementara, Hercules. Hanya empat potong kertas kecil. Tapi ini dianggap sebagai sebuah dokumen luar biasa penting yang akan memecahkan segala misteri dan rahasia.


Kertas-kertas ini berasal dari buku catatan Jose Mourinho. Di dalamnya ada tulisan-tulisan semacam "pace, movement TR9". "depth, dead balls, switch wings", "arrival, counter" -segalanya mengarah ke istilah-istilah dalam permain. Lalu ada juga inisial-inisial semacam DM dan PL di kedua sisi, O dan XA di tengah, K di belakang, di di halaman terakhir ada angka-angka: 38, 13, dan 6 di dalam sebuah kolom. Angka 57 di atasnya dengan tulisan "10 bulan" di sekitarnya.

Apa artinya semua ini? Berbagai media di Spanyol langsung mengangkat ini semua menjadi sebuah berita besar dan mencoba menganalisis setiap 'kode' ini satu per satu.

Tidak hanya kode-kodenya saja yang dianalisis, gaya tulisan tangan Mourinho pun menjadi salah satu subjeknya. Hasilnya, orang Portugal ini digambarkan sebagai "

orang yang baik" dengan "kemampuan luar biasa dalam hal kepemimpinan", "karakter yang kuat" dan "rendah hati" dengan "kepintaran yang luar biasa. Angka-angkanya? Sederhana saja. Artinya 10 bulan, 38 pertandingan liga, 13 Liga Champions, dan 6 di Copa Del Rey. Ini adalah pertanda bagus. Ia menghitung timnya mampu lolos ke final Liga Champions. Tapi tentu ini hanyalah sebuah teori.




Ada banyak yang meragukan Mou akan sukses dalam karirnya di Spanyol. Di satu sisi -sisi yang akan dihadapinya nanti malam dalam duel maut Real Madrid vs Barcelona- ia sudah dicap sebagai orang yang tidak bermoral. Tapi tetap saja ia memenuhi waktu dalam hidup mereka. Nyaris tidak ada seharipun berlalu tanpa ada serangan yang mereka luncurkan padannya. Di sisi lain, Mourinho juga tidak pernah mau kalah. Apapun yang ia lakukan adalah sebuah bagian dari rencana besar.

Kejadian pekan lalu saat Madrid dibanjiri kartu merah saat menang telak 4-0 atas Ajax di Liga Champions -dengan kemungkinan pemain-pemain ini harus absen di fase knockout nanti sama sekali tidak membantu. Ini justru menghapus penampilan indah mereka di lapangan dan justru menyajikan kontroversi sebagai sajian utama di depan masyarakat dunia.

Kehidupan di Spanyol tidak berjalan dengan cukup baik di awal bagi Mourinho, setelah membawa tim Inter Milan-nya menjadi juara Liga Champions, Real meraih hasil imbang 0-0 dua kali di dalam tiga pertandingan away. Dan banyak yang khawatir sepakbolanya akan menjadi semakin membosankan. Tapi kemudian, mereka menjawab dengan kemenangan 6-1, 4-1, 6-1 berurutan. Mereka berlanjut menang tujuh kali beruntun. Duduk di puncak klasemen, satu poin di atas Barca dan sudah mencetak 33 gol dari 12 pertandingan. Sebuah rekor terbaik dari manajer baru di Liga Spanyol.


Ada rasa percaya yang kolektif muncul di Madrid semenjak kedatangan Jose Mourinho. Kita bisa melihat dari ekspresi dan penampilan Angel Di Maria misalnya. Ada pengorbanan yang harus dilakukan. Pedro Leon sudah tidak dimainkan dalam dua pertandingan. Karim Benzema dihukum setelah datang terlambat. Sergio Canales kehilangan posisi dengan alasan sederhana: "Saya tidak menyukainya"

Secara pertahanan, mereka tampil aman. Penampilan Madrid penuh pergerakan dan ketepatan, dengan serangan balik yang dimotori oleh seorang Xabi Alonso. Mereka juga menikmati penguasaan bola jauh lebih banyak darri tim-tim yang pernah ada sebelumnya. Dengan pergerakan cepat yang dipimpin oleh Di Maria, Cristiano Ronaldo, dan tentunya si sederhana Mesut Ozil.

Tidak hanya bisa memenangi sesuatu, Mourinho juga berbeda. Ia punya caranya sendiri dalam melakukan sesuatu. Tidak ada satupun pelatih Madrid yang pernah mendapatkan kemewahan ini sebelumnya. Barcelona sudah sangat sering diidentifikasikan dengan pelatih mereka. Madrid nyaris tidak pernah. Hingga saat ini. Ketika Mourinho akhirnya datang. Salah satu rilis resmi mereka sempat menyebutkan "Pelatih Terbaik Di Dunia Akhirnya Datang". Dan sang presiden Florentino Perez juga menekankan, "Galactico kami tahun ini hanya satu: Mourinho"

Mendatangkan pemain baru menjadi bagian awal kepemimpinannya (Ricardo Carvalho dan Di Maria datang setelah dirinya 'memaksa'). Ia juga mengontrol segalanya dan saat ini ia sudah berubah menjadi suara klub ini. Sebuah identitas bagi Real Madrid. Dan Perez terlihat sangat bahagia dengan ini. Salah satu direktur klub menyebut, "Ia adalah pelatih terbaik di dunia. Tidak hanya soal taktik, ia adalah seorang psikolog terbaik, orang terbaik yang bisa menangani ego pemain, dan yang terbaik di jendela transfer"

Berbagai media di Spanyol terus menerus menjadikan Mourinho sebagai sasaran headline mereka. Headline dengan elemen kata "Mou" di dalamnya menjadi sesuatu yang rutin di musim ini. Bahkan ada yang menyebut dirinya adalah seorang "Michael Jackson-nya Pelatih". Saat persaingannya dengan Manolo Preciado, sang pelatih Sporting Gijon, ia justru disebut sebagai seorang Spanyol sederhana yang harus rela berhadapan dengan serangan dari bangsa luar. Mourinho -hanya dalam beberapa pekan- sudah diperlakukan bak dewa.

Memang tidak semua orang melihatnya sebagai seorang korban dalam insiden tersebut. Walaupun memang Preciado yang menghina Mou, menyebutnya "scumbag" alias "tempat sampah", para pelatih di divisi utama mendukung Preciado. Karena Mourinho dianggap melanggar salah satu peraturan utama dengan mempertanyakan profesionalitas pelatih lain. Menuduh Preciado membuang pertandingannya menghadapi Barcelona. Preciado adalah sosok yang populer. Sementara Mou adalah sosok yang terus punya sejarah mampu mempengaruhi wasit dan lawan.

Jika Barcelona, seperti yang ditekankan Mourinho sendiri, "terobsesi" dengan dirinya. Ia juga sebenarnya tidak jauh berbeda. Sama-sama memiliki obsesi luar biasa pada tim Catalan ini. Misi utamanya adalah untuk menghancurkan mereka. Sejauh ini, upaya provokasi yang ia lakukan tidak berjalan baik. Pep Guardiola menanggapinya dengan dingin dan menolak untuk terlibat lebih jauh. Meski begitu, saat sang presiden Barca, Sandro Rossel, menyebut Mou akan mendapatkan "sambutan yang layak" di Camp Nou. Banyak orang melihatnya sebagai sebuah ancaman.

Dan Madrid sendiri adalah sebuah ancaman yang jauh lebih berbahaya dari waktu-waktu sebelumnya. Misi pertama Mourinho untuk Madrid bahkan sudah ia jalani saat masih menjadi pelatih di Inter. Menghentikan langkah Barca di semifinal Liga Champions. Dan ia melakukannya. Setelah bertahun-tahun tanpa trofi, kemenangan adalah segalanya. Jadi rasanya bukan masalah jika ia membuat banyak musuh dalam perjalanan.

"Orang-orang yang menyerangnya hanya iri padanya karena ia sukses" bela Alfredo Di Stefano -persiden kehormatan Madrid. "Kami tidak mendatangkannya untuk mendapatkan teman. Kami mendatangkannya untuk menang" ucap Emilio Butragueno, salah satu direktur Madrid.

Dan terutama kemenangan di Nou Camp malam ini. Mampukah? Mari kita bersiap untuk pertandingan yang menarik perhatian jutaan pasang mata pecinta sepakbola dari seluruh dunia.

Please welcome, El Clasico.