I fell in a love a few times in my life. But the love that hit me the most and, somehow, really consistent is the one that i feel about football.
Sepakbola adalah permainan yang sederhana. 22 pemain dilempar ke satu lapangan, rebutan satu bola, sama-sama usaha buat bikin bolanya masuk ke gawang. Yang paling banyak, menang.
Sederhana.
Sayangnya, seperti banyak hal sederhana lain di dunia ini, love complicates all this.
Hal yang paling inevitable saat seseorang mulai mencintai sesuatu adalah... Expectation.
It sucks. But that's what you have in mind everytime you chose (or not) to fall in love, you'll expect.
Mau ada jutaan orang yang ngasi warning biar ekspektasi jangan terlalu tinggi, tetap aja. It's there.
Dengan timnas Indonesia, ekspektasi ini sudah di-arrange dengan sempurna ke level terendah. Jadi mau hasilnya gimana juga, it'll be above expectation.
Dengan Manchester United, it's the whole other story.
I'm a shameless glory hunter. I like Manchester United because, well, they win.
United dan menang itu nyaris selalu ada di dalam kalimat yang sama semenjak gw menyukai tim yang satu ini.
Well. Memang tetap ada masa-masa buruk sih. Misalnya pas Arsenal dengan Thierry Henry-nya melaju super kencang. Atau pas Jose Mourinho baru awal-awal datang di Chelsea.
Tapi selalu ada satu poin yang bikin gw tenang dan percaya: Sir Alex Ferguson.
Musim ini: he's gone. Vanished.
Fergie selalu jadi pegangan kuat gw untuk hal-hal buruk yang terjadi di United. Di kepala gw, selalu ada pembelaan: "Fergie will fix this."
Sekarang ya gak ada lagi.
Jadi, setting ekspektasi gw untuk United di musim ini udah cukup rendah. Dan tim ini masih sukses tampil lebih rendah dari itu. Luar biasa.
It struck me really hard the last weekend.
Sebelum United tanding lawan Fulham, i look at the table dan... Menang pun United akan tetap stuck di posisi 8.
Lebih parah lagi, pas nonton Arsenal vs Liverpool. Gw sadar bahwa inilah yang dirasakan fans 2 tim tersebut saat nonton United vs City atau United vs Chelsea di beberapa musim terakhir.
They're the title contender.
United? Nonton di bawah, berharap ada yang terpeleset, sehingga (mungkin) bisa sneak in masuk ke posisi 4 besar. Mungkin inilah kenapa Arsene Wenger sering bilang masuk 4 besar rasanya kayak menang trofi.
But is it made me love United less?
Sadly, No.
Sebenarnya, Ini adalah waktu yang sangat menyenangkan untuk menjadi fans United. The frustration, the bad results, the insults.
It's fun.
Sangat lucu melihat berapa banyak fans Arsenal yang berharap United terpeleset saat melawan Fulham. Padahal beda poin sama tim mereka udah amat sangat jauh. Gak relevan. We're not on their league.
Sangat lucu juga melihat banyak fans United yang udah teriak-teriak ngomel ke David Moyes (Bahkan saat United menang).
He's the manager. Put the freakin faith in him. Walaupun, harus diakui, beberapa kali gw pengen nge-chants "You don't know what you're doing" ke doi.
But i don't want him out. I'm curious. How far can this United team go with him. Bisa terbang melayang jauh ke angkasa atau terpuruk dalam ke dasar neraka.
Either way, it's fun.
So... I'm excited.
Apa yang dimulai dengan rasa suka/cinta/sayang karena menang, sekarang berubah jadi rasa suka/cinta/sayang karena...
I don't know.
Sometimes in life, there's something that you just can't explain. This is, probably, one of them.
Showing posts with label blabbers. Show all posts
Showing posts with label blabbers. Show all posts
Monday, November 4, 2013
Sunday, March 24, 2013
GBK. Again.
Buat gw, Gelora Bung Karno adalah salah
satu tempat paling magis yang ada di dunia ini. Nyaris gak pernah sekalipun gw
masuk ke stadion ini tanpa merasa merinding (Even pas nonton konser ogah-ogahan
YellowCard dulu pun tetap ada rasa merinding saat masuk dan melihat isi stadion
megah ini).
Jadi, saat Indonesia akan menjamu Arab
Saudi di lanjutan Kualifikasi Piala Asia hari Sabtu, 23 Maret 2013, gw pun amat
sangat berharap bisa datang dan kembali berteriak-teriak di salah satu dari
puluhan ribu kursi keramat di dalamnya.
Dengan keberuntungan dan kebaikan teman, I
got that freakin ticket. Gak murah. Untuk level kualifikasi, angka 200,000
untuk kategori 1 jelas lumayan tinggi. I don’t really care tho. Yang penting
bisa masuk dan nonton timnas main. Udah kangen. Terakhir kali adalah pas away
days AFF 2012 di Malaysia bulan Desember lalu.
Beda dengan pas away days, kali ini
atmosfir GBK luar biasa. Dari (katanya) 70ribu tiket yang disediakan,
sepertinya nyaris semuanya terjual. Stadion Gelora Bung Karno pun kembali
penuh. Padat di luar. Padat di dalam. Padahal, hujan deras datang menghampiri
beberapa jam sebelum kick off.
Dengan kondisi basah kuyub dan salah kelas
duduk -We ended up sitting in Category 2 (100,000), while our tickets are
Category 1- gw dan teman-teman siap
untuk kembali sakit hati untuk ke sekian kalinya.
Tapi setipis apapun itu, harapan tetaplah
harapan. Jadi… Kami pun berharap akan ada sesuatu bernama keajaiban (Jangan
ditiru. Setipis apapun harapan, it still… hurts).
Setelah kembali merinding menikmati
nyanyian choir ‘Indonesia Raya’ puluhan ribu orang yang dilanjutkan dengan
flare menyala dari berbagai sudut stadion, pertandingan dimulai.
Sesuai dugaan, Arab Saudi langsung
menguasai serangan. Namun di awal-awal pertandingan, tanda-tanda keajaiban itu
muncul. Saat Arab lupa kalau Indonesia ternyata punya kemampuan menyerang,
defender mereka melakukan kesalahan fatal dan Boaz pun membawa timnas Indonesia
unggul. GBK bergetar. Literally.
Merayakan gol bersama puluhan ribu orang
adalah suatu hal yang luar biasa. It felt amazing. Di tengah euforia semacam
ini, kami nyaris lupa kalau gol tadi bisa jadi hanyalah harapan palsu belaka.
Seperti yang terus diberikan oleh tim ini selama bertahun-tahun.
Benar saja. Timnas kemudian tampil
medioker. Padahal, katanya, ini adalah tim terbaik yang bisa dikumpulkan saat
ini. Tidak seperti tim yang turun di AFF ataupun pra-piala dunia kemarin.
Tidak ada yang istimewa. Lini tengah timnas
seperti lupa datang ke GBK. Kerja keras lini belakang dan upaya lari-lompat
para pemain depan terasa sia-sia. Passing buruk, tidak ada penguasaan bola yang
meyakinkan, dan Ponaryo Astaman seolah tertelan bumi.
Arab Saudi menemukan ritme mereka dan
membunuh Indonesia dengan dua gol balasan. Could, and should, be more. Sementara upaya timnas untuk menyerang
(bahkan saat memainkan empat striker), terlihat lebih seperti usaha
membuang-buang bola. Sia-sia.
Sebuah keajaiban lain adalah bisa melihat
Ponaryo tampil hingga beberapa menit menjelang injury time. (WHY OH WHY). I
personally miss Taufik. Tapi kehadiran Bustomi sebenarnya juga bisa menjadi
pilihan yang lebih oke jika diturunkan lebih awal.
Lalu, kecepatan Andik yang bisa berguna di
menit-menit akhir pun tidak dimanfaatkan. The-So-Called-Indonesian-Messi pun
duduk di bench hingga peluit akhir dibunyikan.
Ah. Peluit akhir.
Gw bukan orang yang percaya dengan label
kalah terhormat. Kalah adalah kalah. Period. Tapi ada saat di mana kita
menerima kekalahan dengan merasa tersentuh dengan perjuangan super keras para
pemain di lapangan. Itu yang gw rasakan dulu saat menyaksikan anak-anak asuh
Nil Maizar bermain di AFF. They’re shite. But they fight superbly.
Last night. I don’t know. Mungkin karena
ekspektasi yang terlalu tinggi. Mungkin karena kesal ngeliat beberapa potensi
pemain tidak sempat keluar secara maksimal. Mungkin karena gw rindu dengan
kemenangan di GBK. Yang pasti, saat untuk kesekian kalinya melangkah lunglai
keluar GBK, I felt… weird.
Padahal, sejak awal, I know we’re gonna
lose from Arab Saudi and I know my heart gonna be broken again for
the-I’ve-lost-count times.
“Hari ini Pasti Menang”, my ass. I believe we
need a new chant.
Lalu… Apakah gw akan kembali lagi untuk
nonton Timnas Indonesia main di GBK atau bahkan away?
Of course. I’m in love. And will always be.
So, I have every right to be irrational and idiotic.
Labels:
blabbers,
GBK,
Sepakbola,
Timnas Indonesia
Friday, November 2, 2012
Love Is That Kind Of Thing...
The kind of thing that makes you singing all day long, smiling all month long, and shining all year long.
The kind of thing that makes you cranky all day long, crying all month long, and gloomy all year long.
The kind of thing that makes you crave for more. Every second, every minute, every hour, and every day.
The kind of thing that makes you screaming for less. Every second, every minute, every hour, and every day.
The kind of thing that makes you insecure, nervous, excited. All at the same time. All at the same mind.
The kind of thing that makes you realizes that gravity actually existed. And we can't resist it. Even for a bit.
The kind of thing that makes you fall. And enjoying the fall. And addicted to the fall.
The kind of thing that makes you hurt. Yet still coming back for more. And more. And more. And more.
The kind of thing that makes you love your life.
The kind of thing that makes you hate your life.
Love is that kind of thing.
And much more.
The kind of thing that makes you cranky all day long, crying all month long, and gloomy all year long.
The kind of thing that makes you crave for more. Every second, every minute, every hour, and every day.
The kind of thing that makes you screaming for less. Every second, every minute, every hour, and every day.
The kind of thing that makes you insecure, nervous, excited. All at the same time. All at the same mind.
The kind of thing that makes you realizes that gravity actually existed. And we can't resist it. Even for a bit.
The kind of thing that makes you fall. And enjoying the fall. And addicted to the fall.
The kind of thing that makes you hurt. Yet still coming back for more. And more. And more. And more.
The kind of thing that makes you love your life.
The kind of thing that makes you hate your life.
Love is that kind of thing.
And much more.
Wednesday, January 18, 2012
Pacar is Overrated
Beberapa hari yang lalu, gw dapat email penawaran speed dating (I haven’t send it back, should i?) dan hari ini, pagi-pagi twitter ramai dengan Bisnis Rental Pacar.
What’s with people and relationship sih?
Belakangan ini, punya relationship alias pacar kayaknya jadi kebutuhan premier. Levelnya udah sama dengan makanan sama napas.
Kenapa? I blame the social media and the environment sih. Dulu sempat ada masa di mana orang gak peduli-peduli amat punya pacar atau enggak. Ada ya syukur, kalo gak ada ya udahlah ya.
Sekarang? Jomblo sebentar aja galaunya udah sama kayak orang yang gak pernah pacaran seumur hidupnya. Ditambah lagi akun-akun twitter yang semuanya galau. Radio galau, hantu galau, bahkan akun sepakbola juga galau. Temanya nyaris sama: gak punya pacar.
And people enjoy that. Menikmati ngeliat orang lain gak punya pacar menderita. Dan kemudian mendorong diri sendiri untuk heboh nyari pacar.
Setelah punya pacar? Saatnya show off. Punya pacar dan bahagia. Dan orang-orang akan ngeliat dia dengan berbeda.
Really? Pfft.
Singles can be awesome. And relationship is (can) always (be) hell.
Jadi kenapa begitu banyak orang sangat ingin segera punya pacar? Atau ingin “kelihatan” punya pacar? Image pastinya. Kan kalau bisa dipamerin di twitter, image “Jomblo Ngenes nan Galau” bisa dicopot. Dan kasta sosial pun meningkat.
People, Pacar is overrated.
But let’s face it. We LOVE overrated things.
What’s with people and relationship sih?
Belakangan ini, punya relationship alias pacar kayaknya jadi kebutuhan premier. Levelnya udah sama dengan makanan sama napas.
Kenapa? I blame the social media and the environment sih. Dulu sempat ada masa di mana orang gak peduli-peduli amat punya pacar atau enggak. Ada ya syukur, kalo gak ada ya udahlah ya.
Sekarang? Jomblo sebentar aja galaunya udah sama kayak orang yang gak pernah pacaran seumur hidupnya. Ditambah lagi akun-akun twitter yang semuanya galau. Radio galau, hantu galau, bahkan akun sepakbola juga galau. Temanya nyaris sama: gak punya pacar.
And people enjoy that. Menikmati ngeliat orang lain gak punya pacar menderita. Dan kemudian mendorong diri sendiri untuk heboh nyari pacar.
Setelah punya pacar? Saatnya show off. Punya pacar dan bahagia. Dan orang-orang akan ngeliat dia dengan berbeda.
Really? Pfft.
Singles can be awesome. And relationship is (can) always (be) hell.
Jadi kenapa begitu banyak orang sangat ingin segera punya pacar? Atau ingin “kelihatan” punya pacar? Image pastinya. Kan kalau bisa dipamerin di twitter, image “Jomblo Ngenes nan Galau” bisa dicopot. Dan kasta sosial pun meningkat.
People, Pacar is overrated.
But let’s face it. We LOVE overrated things.
Wednesday, April 27, 2011
Limit
I’ve talk about this before –in such an emotional way.
But, for now, let’s see it in clearer way.
Everyone’s has their own limit, eh?
Me, you, him, her, them, everyone.
Some are short, some are long, some are too-long-that-you-imagine-they-dont-have-any.
But they do. Oh yes. They do.
They just hiding it, ignoring it, avoiding it.
With so many different reasons. From the most rational one, until the clearly-irrational (and stupid) one.
These reasons will keep coming, until they running out of it.
And at that time, the limit are unavoidable.
The blow up won’t be nice to see. Or face for some matter.
So, which one are you?
And which one is the person closest to you?
But, for now, let’s see it in clearer way.
Everyone’s has their own limit, eh?
Me, you, him, her, them, everyone.
Some are short, some are long, some are too-long-that-you-imagine-they-dont-have-any.
But they do. Oh yes. They do.
They just hiding it, ignoring it, avoiding it.
With so many different reasons. From the most rational one, until the clearly-irrational (and stupid) one.
These reasons will keep coming, until they running out of it.
And at that time, the limit are unavoidable.
The blow up won’t be nice to see. Or face for some matter.
So, which one are you?
And which one is the person closest to you?
Thursday, November 18, 2010
Hallo... Again... :D
Halo dear Blog.
July - November.
Terakhir gw menulis di sini adalah bulan Juli. Abis nonton Inception.
Dan baru beberapa minggu lalu Inception keluar dvd-bajakan-gambar-bagus nya. Bahkan yang original-nya belom keluar sama sekali. Cih.
Okay. Not the point.
Yang jelas dan yang pasti adalah banyak sekali hal yang berubah.
Belum. Gw blom lulus. Bab 1-3 gw masih menunggu revisi dari sang pembimbing tersayang.
And yes. Gw masih menulis untuk www.supersoccer.co.id.
Sekali-sekali pake nama 'Ethan Hajira'.
On the plus side, i got a new job.
Majalah OUCH. majalah gratisan buat anak-anak SMA.
it's a fun job this is. Although nothing compared to my other job.
This is my blog-back.
Mem-blog-kan diri kembali.
Mencurahkan kelabilan dan ketidakstabilan pikiran gw di sini.
Thi is me. Writing back.
Expect. Some. Rollercoaster Ride.
...................... Echa's Mind To Share ........................................
July - November.
Terakhir gw menulis di sini adalah bulan Juli. Abis nonton Inception.
Dan baru beberapa minggu lalu Inception keluar dvd-bajakan-gambar-bagus nya. Bahkan yang original-nya belom keluar sama sekali. Cih.
Okay. Not the point.
Yang jelas dan yang pasti adalah banyak sekali hal yang berubah.
Belum. Gw blom lulus. Bab 1-3 gw masih menunggu revisi dari sang pembimbing tersayang.
And yes. Gw masih menulis untuk www.supersoccer.co.id.
Sekali-sekali pake nama 'Ethan Hajira'.
On the plus side, i got a new job.
Majalah OUCH. majalah gratisan buat anak-anak SMA.
it's a fun job this is. Although nothing compared to my other job.
This is my blog-back.
Mem-blog-kan diri kembali.
Mencurahkan kelabilan dan ketidakstabilan pikiran gw di sini.
Thi is me. Writing back.
Expect. Some. Rollercoaster Ride.
...................... Echa's Mind To Share ........................................
Subscribe to:
Posts (Atom)