I miss falling in love.
Or at the very least, i miss the idea of falling in love.
The head over heels feeling.
The willing-to-do-any-stupid-thing stuff.
The endless conversation about all the random thing in the world.
I miss that.
It has not been that long since i'm in a relationship, to be fair.
But, since the last few months of my last relationship is more like avoiding-the-third-world-war rather than falling in love, so yes, it felt sooo long.
My life's so much fun at the moment. Nothing to complained about.
Still. It would be nice to fall in love with someone else soon.
So come out.
Come out.
Whereever you are.
Sunday, August 21, 2016
Saturday, March 12, 2016
The JKT48 Experience
Trying
something new is always fun. Gw selalu penasaran dengan apa yang ada di dalam
satu tempat di Fx bernama Teater JKT48. So, since i finally got a chance to do
it, i took it. And i took it pretty well.
I don't even know what team i'm gonna watch sampe abang-abang yang di tempat tiket bilang, "Oh. Tim J ya hari ini." Which is fortunate, jadi at least gw familiar sama beberapa nama nya. To top it off, pas masuk nyaris aja salah duduk. Can’t be anymore rookie than that.
Meski gak terlalu asing dengan dunia per-idol-an (i've listened and watch AKB
for years now and also have a little unhealthy obsession for this anime called
Love Live), ini pertama kalinya gw mencoba nonton langsung. I know nothing
about this. Gw literally harus google apa itu bingo dan sempat beberapa kali
whatsapp nanya-nanya temen yang vvota original.
I don't even know what team i'm gonna watch sampe abang-abang yang di tempat tiket bilang, "Oh. Tim J ya hari ini." Which is fortunate, jadi at least gw familiar sama beberapa nama nya. To top it off, pas masuk nyaris aja salah duduk. Can’t be anymore rookie than that.
So. The show.
Of course they lypsinc-ed. Tapi nonton langsung JKT48 dengan alasan mau denger
mereka nyanyi sama aja bullshit-nya dengan bilang beli majalah Popular karena
artikel interview-nya insighful. This is all about visual experience. (They do
have a few cute songs, tho. I fell for Dewi Teater). And it was... Good.
These girls worked hard. The dance routine, the costume changing, bahkan at
some point ada yang ngangkat2 kursi ke panggung pake kostum super ribet
(Kayaknya Vanka deh. Kalo bener, fix jadi Oshi.). I can't imagine how boring
and tiring it is for them.
Lalu ada momen-momen menyenangkan, tapi sometimes cringing pas mereka mencoba
berinteraksi dan, well, telling jokes. (contoh sederhana: tebak-tebakan Ve: “Binatang
apa yang paling kecil? Jawabannya cacing ya, bukan kutu. Kenapa? Karena kutu
bisa cacingan!”), But, to be honest, i really really enjoyed that. Rather than
the singing. (I'm a sucker for cute girls talking, sue me.)
I got kind
of a full package today. Ini adalah show ke 300 buat Melody, jadi ada
sekelompok fans Melody yang sudah menyiapkan banyak balon-balon hati, dan
bahkan stiker untuk merayakan milestone sang idola (Walaupun Nabilah sempet komentar,
“Kayaknya gw udah lama deh show ke 300-nya.”).
Lalu di show ini juga ada satu MVP, seorang bapak-bapak Jepang yang oshi-nya Irene (Irlen?). Ternyata, MVP adalah saat seseorang sudah 100 kali nonton teater. (Way to go, Oyaji!). Tapi mulut cewek-cewek ini emang bener-bener deh ya, pas lagi basa-basi ngasi merchandise dan ngucapin terima kasih, ada yang nyeletuk, “Wah. Kayak Bapak-nya ya!”. Kelakuan.
Lalu di show ini juga ada satu MVP, seorang bapak-bapak Jepang yang oshi-nya Irene (Irlen?). Ternyata, MVP adalah saat seseorang sudah 100 kali nonton teater. (Way to go, Oyaji!). Tapi mulut cewek-cewek ini emang bener-bener deh ya, pas lagi basa-basi ngasi merchandise dan ngucapin terima kasih, ada yang nyeletuk, “Wah. Kayak Bapak-nya ya!”. Kelakuan.
Apparently,
there’s soooo many encore songs. Setelah mereka pamit sekali, ada jeda yang
lumayan lama. Jika di konser normal, encore biasanya 2-3 lagu, ini kayaknya
lebih dari enam. Kalo menurut mereka sih, beberapa itungan-nya lagu bonus buat
yang udah datang ke Teater. Jadi di luar set-list normal.
Setelah
segalanya selesai, ada sesi tos-tosan ternyata. Semua yang datang dibolehkan
high-five sambil cengengesan sama semua member yang baru tampil. Bayangkan,
udah berapa ribu kali mereka melakukan ini dan sudah dengan berapa ribu orang?
I kind of admire these girls a little bit more after today.
Overall. Ada
momen-momen off, tentu saja. Hell, setengah dari post ini ditulis pas mereka lagi
nyanyi-nyanyi di panggung. Tapi dengan energi dan antusiasme yang dikeluarkan dari
semua member, i can clearly understand the appeal. Gak heran ada begitu banyak
orang yang literally jatuh cinta dengan tim ini.
Sebelumnya,
gw sering membandingkan para Vvota dengan fans sepakbola. Well. More or less
sih. Yang jelas, kondisi di dalam tidak seganas dan sebau yang gw perkirakan
sebelumnya. Sangat civilised malah. Cuma ada beberapa celetukan yang lumayan
ganggu aja sih paling. But i guess it’s normal. Exactly kayak ABG mau narik
perhatian gebetannya.
Will i go
back there?
Well.
Mungkin tidak dalam waktu dekat. Dan sepertinya tidak mungkin akan jadi
penganut setia yang datang sekali seminggu sampai bisa jadi MVP. Tapi jika
suatu saat nanti bosan dan tidak ada kerjaan, this could be one of the option.
And most probably, i will make sure dulu ada Beby atau Ayana di show-nya.
Terima Kasih
Sudah Membaca Tulisan Ini Ya! (Dibaca dengan nada member JKT)
Monday, March 7, 2016
Another Goodbye.
As cliche as it sounds, Love DO comes and go as it please.
At this time one week ago, i have a girlfriend, a few future things planned, and some insecurity.
Today? I have none. Well. Maybe some insecurity.
Some people said that it was more than 3 years wasted. Well. Cuma sedikit berkembang dari Goodbye serius sebelumnya (More than 4 years. What The F i was thinking?).
But in a way, i can say that it was 3 years gained. With all the wonderful things we shared, all the silliest laugh we made, and every little thing in between.
It was Love. That how it (always) is. Dia bisa bikin kita naik lebih tinggi dari mariyuana terbaik di dunia, tapi (in a flash) bisa bikin siapapun terkubur dalam lubang yang seolah tanpa dasar.
Stiil. Love is a wonderful thing. Even in goodbye. It made me appreciate all the thing that happened.
To be fair, It also made me question a lot of thing, but not like i was mad at it. How can you mad at Love?
When it comes, all we need to do is embrace it.
When it decided to leave, we let it go. With gratitude.
So, Thank You, Love.
Thanks for coming by. It was wonderful.
At this time one week ago, i have a girlfriend, a few future things planned, and some insecurity.
Today? I have none. Well. Maybe some insecurity.
Some people said that it was more than 3 years wasted. Well. Cuma sedikit berkembang dari Goodbye serius sebelumnya (More than 4 years. What The F i was thinking?).
But in a way, i can say that it was 3 years gained. With all the wonderful things we shared, all the silliest laugh we made, and every little thing in between.
It was Love. That how it (always) is. Dia bisa bikin kita naik lebih tinggi dari mariyuana terbaik di dunia, tapi (in a flash) bisa bikin siapapun terkubur dalam lubang yang seolah tanpa dasar.
Stiil. Love is a wonderful thing. Even in goodbye. It made me appreciate all the thing that happened.
To be fair, It also made me question a lot of thing, but not like i was mad at it. How can you mad at Love?
When it comes, all we need to do is embrace it.
When it decided to leave, we let it go. With gratitude.
So, Thank You, Love.
Thanks for coming by. It was wonderful.
Monday, December 7, 2015
Kereta Jam 05.25, Gerbong 5.
Perjalanan menaiki kereta untuk ke kantor setiap pagi hari adalah sesuatu yang menyiksa, tapi penting untuk dilakukan. Setidaknya untuk Rama.
Semuanya berubah saat di suatu pagi ia melihat satu tangan menggantung di... (Wait. Kenapa jadi kayak cerita horor?). Ulang. Satu tangan berpegangan di atas kepala-kepala nan padat di gerbong 5 kereta Bogor - Kota jam 05.25.
Rama tidak bisa melihat wajahnya. Tapi dari bentuk tangan dan jam yang terpasang rapi, ia bisa menebak bahwa itu adalah seorang Wanita. Dan dengan rasa percaya diri entah dari mana (atau ya memang fetish tangan aja.), Rama merasa wanita itu... Cantik.
Tapi tentu saja, Rama tidak bisa langsung berkenalan. Lah ya bergerak (bahkan bernapas) saja susah. Tangan itu pun menghilang saat kereta melewati stasiun Manggarai. Rama pun menyimpan kejadian itu di kotak memori-nya dan menahan diri untuk tidak berharap akan ada momen Serendipity hadir dalam waktu dekat.
Besoknya. Rama kembali lagi memulai rutinitas pagi-nya di Stasiun. Jam biologis-nya membuatnya bersiap untuk kereta jam 05.25 dari Bogor. Dan alam bawah sadar-nya sudah secara otomatis menggerakkannya ke gerbong 5.
Dan (Tangan) Wanita itu ada di gerbong itu lagi. Dengan jam yang sama. Dan sapuan kutek yang sama.
Rama kembali terpesona. Apakah ini takdir, tanya-nya dalam hati. (Hati Rama menjawab: Yeah. Takdir. Si om-om gendut yang duduk di seberang sana juga sudah 3 hari ada gerbong yang sama dengan lo. Takdir juga.).
Tentunya, Rama masih belum bisa mendekat. Tapi paling tidak, ia sudah bisa memastikan bahwa tangan tersebut milik seorang wanita. Kini Rama sudah bisa melihat rambut-nya yang lumayan panjang dan sedikit wajahnya dari samping. Sebuah pemandangan yang kembali hilang saat kereta melewati stasiun Manggarai.
Di hari ketiga, Rama bangun pagi dengan antusias, bergegas ke Stasiun. Kembali mendapatkan kereta yang sama. Gerbong yang sama. Dan... Tangan yang sama. Tapi Rama tidak bisa bertemu wanita itu. Belum. Jarak mereka dipisahkan puluhan penumpang lain yang berdesak. Rama pun menghitung mundur hingga Stasiun Manggarai, dan keindahan pagi itu pun sirna.
Setiap hari, Rama semakin mendekat dengan tangan (Erm... Wanita.) idaman-nya itu. Hingga weekend pun tiba dan Rama merasa ada yang kosong dalam pagi hari-nya. Dengan rasa khawatir amat sangat, ketika Senin tiba nanti, tangan tersebut akan hilang.
Well. Senin pun tiba dan tangan tersebut masih ada di kereta jam 05.25 dari Bogor. Di Gerbong 5. Begitupun saat hari Selasa, dan hari Rabu.
Rama semakin menikmati pagi hari-nya. Meski usaha-nya untuk mendekati (literally) Wanita itu tidak pernah berhasil. Jarak terdekatnya adalah... 5 tubuh manusia dewasa dan 1 anak kecil. Selain itu, biasanya ia hanya bisa melihat tangan dan jam tangan yang tidak pernah berubah itu.
Pekan-pekan menyenangkan pun berlalu. Hingga di suatu Senin, mimpi buruk Rama terwujud. Ia tidak lagi melihat tangan idaman-nya. Padahal, ia tepat berada di kereta jam 05.25 dan gerbong nomor 5.
Rama mencoba berpikir positif, bahwa ini hanyalah glitch dalam sistem hidupnya yang rapi dan menyenangkan. Bahwa besok sang tangan akan kembali ke kehidupannya.
Well. She's not.
Tidak di hari Selasa. Tidak di Hari Rabu. Tidak di seluruh minggu itu.
Rama pun sedikit terpukul. Harapan terakhirnya saat hari Senin kembali tiba. Ia berharap, tangan itu akan kembali hadir di pojok matanya, sebelum akhirnya menghilang di Stasiun Manggarai. Di kereta jam 05.25. Di gerbong 5.
Dan di hari Senin itu, tangan favorit Rama tetap tidak ada. Rama pun berhenti mencari. Berhenti berharap ada kebetulan lain yang menghampirinya. Dan mungkin saja, ia pun akan berhenti menaiki kereta jam 05.25. Di gerbong 5.
Dengan pikiran seperti itu, Rama pun turun di Stasiun biasa, lalu menyapa sang Pacar yang sudah menanti di pintu depan untuk pergi ke Kantor bersama. Seperti yang ia lakukan setiap harinya...
Semuanya berubah saat di suatu pagi ia melihat satu tangan menggantung di... (Wait. Kenapa jadi kayak cerita horor?). Ulang. Satu tangan berpegangan di atas kepala-kepala nan padat di gerbong 5 kereta Bogor - Kota jam 05.25.
Rama tidak bisa melihat wajahnya. Tapi dari bentuk tangan dan jam yang terpasang rapi, ia bisa menebak bahwa itu adalah seorang Wanita. Dan dengan rasa percaya diri entah dari mana (atau ya memang fetish tangan aja.), Rama merasa wanita itu... Cantik.
Tapi tentu saja, Rama tidak bisa langsung berkenalan. Lah ya bergerak (bahkan bernapas) saja susah. Tangan itu pun menghilang saat kereta melewati stasiun Manggarai. Rama pun menyimpan kejadian itu di kotak memori-nya dan menahan diri untuk tidak berharap akan ada momen Serendipity hadir dalam waktu dekat.
Besoknya. Rama kembali lagi memulai rutinitas pagi-nya di Stasiun. Jam biologis-nya membuatnya bersiap untuk kereta jam 05.25 dari Bogor. Dan alam bawah sadar-nya sudah secara otomatis menggerakkannya ke gerbong 5.
Dan (Tangan) Wanita itu ada di gerbong itu lagi. Dengan jam yang sama. Dan sapuan kutek yang sama.
Rama kembali terpesona. Apakah ini takdir, tanya-nya dalam hati. (Hati Rama menjawab: Yeah. Takdir. Si om-om gendut yang duduk di seberang sana juga sudah 3 hari ada gerbong yang sama dengan lo. Takdir juga.).
Tentunya, Rama masih belum bisa mendekat. Tapi paling tidak, ia sudah bisa memastikan bahwa tangan tersebut milik seorang wanita. Kini Rama sudah bisa melihat rambut-nya yang lumayan panjang dan sedikit wajahnya dari samping. Sebuah pemandangan yang kembali hilang saat kereta melewati stasiun Manggarai.
Di hari ketiga, Rama bangun pagi dengan antusias, bergegas ke Stasiun. Kembali mendapatkan kereta yang sama. Gerbong yang sama. Dan... Tangan yang sama. Tapi Rama tidak bisa bertemu wanita itu. Belum. Jarak mereka dipisahkan puluhan penumpang lain yang berdesak. Rama pun menghitung mundur hingga Stasiun Manggarai, dan keindahan pagi itu pun sirna.
Setiap hari, Rama semakin mendekat dengan tangan (Erm... Wanita.) idaman-nya itu. Hingga weekend pun tiba dan Rama merasa ada yang kosong dalam pagi hari-nya. Dengan rasa khawatir amat sangat, ketika Senin tiba nanti, tangan tersebut akan hilang.
Well. Senin pun tiba dan tangan tersebut masih ada di kereta jam 05.25 dari Bogor. Di Gerbong 5. Begitupun saat hari Selasa, dan hari Rabu.
Rama semakin menikmati pagi hari-nya. Meski usaha-nya untuk mendekati (literally) Wanita itu tidak pernah berhasil. Jarak terdekatnya adalah... 5 tubuh manusia dewasa dan 1 anak kecil. Selain itu, biasanya ia hanya bisa melihat tangan dan jam tangan yang tidak pernah berubah itu.
Pekan-pekan menyenangkan pun berlalu. Hingga di suatu Senin, mimpi buruk Rama terwujud. Ia tidak lagi melihat tangan idaman-nya. Padahal, ia tepat berada di kereta jam 05.25 dan gerbong nomor 5.
Rama mencoba berpikir positif, bahwa ini hanyalah glitch dalam sistem hidupnya yang rapi dan menyenangkan. Bahwa besok sang tangan akan kembali ke kehidupannya.
Well. She's not.
Tidak di hari Selasa. Tidak di Hari Rabu. Tidak di seluruh minggu itu.
Rama pun sedikit terpukul. Harapan terakhirnya saat hari Senin kembali tiba. Ia berharap, tangan itu akan kembali hadir di pojok matanya, sebelum akhirnya menghilang di Stasiun Manggarai. Di kereta jam 05.25. Di gerbong 5.
Dan di hari Senin itu, tangan favorit Rama tetap tidak ada. Rama pun berhenti mencari. Berhenti berharap ada kebetulan lain yang menghampirinya. Dan mungkin saja, ia pun akan berhenti menaiki kereta jam 05.25. Di gerbong 5.
Dengan pikiran seperti itu, Rama pun turun di Stasiun biasa, lalu menyapa sang Pacar yang sudah menanti di pintu depan untuk pergi ke Kantor bersama. Seperti yang ia lakukan setiap harinya...
Monday, November 4, 2013
The Curious Case of My Feeling for Manchester United
I fell in a love a few times in my life. But the love that hit me the most and, somehow, really consistent is the one that i feel about football.
Sepakbola adalah permainan yang sederhana. 22 pemain dilempar ke satu lapangan, rebutan satu bola, sama-sama usaha buat bikin bolanya masuk ke gawang. Yang paling banyak, menang.
Sederhana.
Sayangnya, seperti banyak hal sederhana lain di dunia ini, love complicates all this.
Hal yang paling inevitable saat seseorang mulai mencintai sesuatu adalah... Expectation.
It sucks. But that's what you have in mind everytime you chose (or not) to fall in love, you'll expect.
Mau ada jutaan orang yang ngasi warning biar ekspektasi jangan terlalu tinggi, tetap aja. It's there.
Dengan timnas Indonesia, ekspektasi ini sudah di-arrange dengan sempurna ke level terendah. Jadi mau hasilnya gimana juga, it'll be above expectation.
Dengan Manchester United, it's the whole other story.
I'm a shameless glory hunter. I like Manchester United because, well, they win.
United dan menang itu nyaris selalu ada di dalam kalimat yang sama semenjak gw menyukai tim yang satu ini.
Well. Memang tetap ada masa-masa buruk sih. Misalnya pas Arsenal dengan Thierry Henry-nya melaju super kencang. Atau pas Jose Mourinho baru awal-awal datang di Chelsea.
Tapi selalu ada satu poin yang bikin gw tenang dan percaya: Sir Alex Ferguson.
Musim ini: he's gone. Vanished.
Fergie selalu jadi pegangan kuat gw untuk hal-hal buruk yang terjadi di United. Di kepala gw, selalu ada pembelaan: "Fergie will fix this."
Sekarang ya gak ada lagi.
Jadi, setting ekspektasi gw untuk United di musim ini udah cukup rendah. Dan tim ini masih sukses tampil lebih rendah dari itu. Luar biasa.
It struck me really hard the last weekend.
Sebelum United tanding lawan Fulham, i look at the table dan... Menang pun United akan tetap stuck di posisi 8.
Lebih parah lagi, pas nonton Arsenal vs Liverpool. Gw sadar bahwa inilah yang dirasakan fans 2 tim tersebut saat nonton United vs City atau United vs Chelsea di beberapa musim terakhir.
They're the title contender.
United? Nonton di bawah, berharap ada yang terpeleset, sehingga (mungkin) bisa sneak in masuk ke posisi 4 besar. Mungkin inilah kenapa Arsene Wenger sering bilang masuk 4 besar rasanya kayak menang trofi.
But is it made me love United less?
Sadly, No.
Sebenarnya, Ini adalah waktu yang sangat menyenangkan untuk menjadi fans United. The frustration, the bad results, the insults.
It's fun.
Sangat lucu melihat berapa banyak fans Arsenal yang berharap United terpeleset saat melawan Fulham. Padahal beda poin sama tim mereka udah amat sangat jauh. Gak relevan. We're not on their league.
Sangat lucu juga melihat banyak fans United yang udah teriak-teriak ngomel ke David Moyes (Bahkan saat United menang).
He's the manager. Put the freakin faith in him. Walaupun, harus diakui, beberapa kali gw pengen nge-chants "You don't know what you're doing" ke doi.
But i don't want him out. I'm curious. How far can this United team go with him. Bisa terbang melayang jauh ke angkasa atau terpuruk dalam ke dasar neraka.
Either way, it's fun.
So... I'm excited.
Apa yang dimulai dengan rasa suka/cinta/sayang karena menang, sekarang berubah jadi rasa suka/cinta/sayang karena...
I don't know.
Sometimes in life, there's something that you just can't explain. This is, probably, one of them.
Sepakbola adalah permainan yang sederhana. 22 pemain dilempar ke satu lapangan, rebutan satu bola, sama-sama usaha buat bikin bolanya masuk ke gawang. Yang paling banyak, menang.
Sederhana.
Sayangnya, seperti banyak hal sederhana lain di dunia ini, love complicates all this.
Hal yang paling inevitable saat seseorang mulai mencintai sesuatu adalah... Expectation.
It sucks. But that's what you have in mind everytime you chose (or not) to fall in love, you'll expect.
Mau ada jutaan orang yang ngasi warning biar ekspektasi jangan terlalu tinggi, tetap aja. It's there.
Dengan timnas Indonesia, ekspektasi ini sudah di-arrange dengan sempurna ke level terendah. Jadi mau hasilnya gimana juga, it'll be above expectation.
Dengan Manchester United, it's the whole other story.
I'm a shameless glory hunter. I like Manchester United because, well, they win.
United dan menang itu nyaris selalu ada di dalam kalimat yang sama semenjak gw menyukai tim yang satu ini.
Well. Memang tetap ada masa-masa buruk sih. Misalnya pas Arsenal dengan Thierry Henry-nya melaju super kencang. Atau pas Jose Mourinho baru awal-awal datang di Chelsea.
Tapi selalu ada satu poin yang bikin gw tenang dan percaya: Sir Alex Ferguson.
Musim ini: he's gone. Vanished.
Fergie selalu jadi pegangan kuat gw untuk hal-hal buruk yang terjadi di United. Di kepala gw, selalu ada pembelaan: "Fergie will fix this."
Sekarang ya gak ada lagi.
Jadi, setting ekspektasi gw untuk United di musim ini udah cukup rendah. Dan tim ini masih sukses tampil lebih rendah dari itu. Luar biasa.
It struck me really hard the last weekend.
Sebelum United tanding lawan Fulham, i look at the table dan... Menang pun United akan tetap stuck di posisi 8.
Lebih parah lagi, pas nonton Arsenal vs Liverpool. Gw sadar bahwa inilah yang dirasakan fans 2 tim tersebut saat nonton United vs City atau United vs Chelsea di beberapa musim terakhir.
They're the title contender.
United? Nonton di bawah, berharap ada yang terpeleset, sehingga (mungkin) bisa sneak in masuk ke posisi 4 besar. Mungkin inilah kenapa Arsene Wenger sering bilang masuk 4 besar rasanya kayak menang trofi.
But is it made me love United less?
Sadly, No.
Sebenarnya, Ini adalah waktu yang sangat menyenangkan untuk menjadi fans United. The frustration, the bad results, the insults.
It's fun.
Sangat lucu melihat berapa banyak fans Arsenal yang berharap United terpeleset saat melawan Fulham. Padahal beda poin sama tim mereka udah amat sangat jauh. Gak relevan. We're not on their league.
Sangat lucu juga melihat banyak fans United yang udah teriak-teriak ngomel ke David Moyes (Bahkan saat United menang).
He's the manager. Put the freakin faith in him. Walaupun, harus diakui, beberapa kali gw pengen nge-chants "You don't know what you're doing" ke doi.
But i don't want him out. I'm curious. How far can this United team go with him. Bisa terbang melayang jauh ke angkasa atau terpuruk dalam ke dasar neraka.
Either way, it's fun.
So... I'm excited.
Apa yang dimulai dengan rasa suka/cinta/sayang karena menang, sekarang berubah jadi rasa suka/cinta/sayang karena...
I don't know.
Sometimes in life, there's something that you just can't explain. This is, probably, one of them.
Tuesday, September 3, 2013
Sebuah Siksaan Bernama Transfer Deadline Day
Sebagai fans United, hari terakhir jendela transfer biasanya dihabiskan dengan menyaksikan klub-klub lain berjuang keras mendapatkan pemain lain sambil menanti transfer-transfer aneh (atau kemahalan) dan tertawa sesudahnya.
That was, of course, not the case for this season.
Hingga satu hari sebelum jendela transfer ditutup –diperingati pula dengan kekalahan 0-1 di Anfield- United masih belum membeli siapapun. SIAPAPUN. (Oke. Ada Varela. Gak diitung.)
Jadi, perjuangan untuk
mendapatkan central midfielder pun dimulai. Pilihannya adalah Ander Herrera
atau target-sepanjang-jendela-transer Marouane Fellaini. Selain itu, ada
kemungkinan juga mendapatkan Leighton Baines. Or even Mesut Ozil.
Seharian, I was looking at three
live updates (Di luar twitter!). Dari guardian, telegraph, dan Mirror. Menunggu pengumuman resmi
apapun dari siapapun tentang belanja United untuk musim ini. All I want is a good central midfielder. Dan Herrera sepertinya memenuhi syarat itu. Fellaini apalagi. Di awal-awal,
prospek kedua pemain ini bergabung tampak sangat cerah.
Tetapi yang terjadi, saya dipaksa
untuk menatap iri ke layar setiap kali ada update terbaru yang muncul. Bale diperkenalkan ke 20,000-an fans di Bernabeu sebagai pemain termahal di dunia. Kaka kembali ke cinta lama-nya, AC Milan. Arsenal
semakin dekat dengan Ozil. Liverpool –yang baru menang- menyelesaikan bisnis mereka
di tengah hari dengan menambah 3 personil baru. Bahkan Aston Villa mendapatkan
striker baru dari Lazio.
United? None.
Jangankan memulangkan kembali
Cristiano Ronaldo. Mengejar Herrera dan Fellaini aja –yang keduanya jelas jelas
mau ke Old Trafford- Ed Woodward dan David Moyes amat sangat kesulitan.
Kemudian muncul berita yang level
absurd-nya terlalu tinggi: Perwakilan United di Bilbao ternyata bukan
perwakilan resmi. Mereka… Impostors. WHAT THE HELL.
So, inevitably, the Herrera Deal
was off the table. FFS.
Berita yang beredar setelahnya
adalah, United memang sudah kehilangan minat membeli Herrera karena release
clause-nya (yang cuma beda 6 Juta Euro dari tawaran mereka) terlalu mahal. Ada
yang juga yang mengatakan mereka akhirnya lebih memilih untuk memfokuskan diri
ke Fellaini. Dan Baines. Intinya? Ribet dan super absurd.
Muncul juga berita bahwa United
menawarkan 40 Juta Euro untuk mendapatkan Sami Khedira. Ditolak mentah-mentah
oleh Madrid –yang mungkin sedang sibuk bernegosiasi ria dengan Arsenal untuk
Ozil.
Untuk meramaikan chaos, tiba-tiba
muncul lagi berita United belum menyerah mendapatkan pemain dari Madrid. Kali
ini giliran Fabio Coentrao dengan status pinjaman. Sampai tulisan ini ditulis,
deal ini menjadi salah satu yang tidak jelas nasibnya. Kemungkinan besar sih
gagal.
Akhirnya, semuanya kembali ke
satu nama: Fellaini. Orang Belgia ini memberikan transfer request ke klub-nya
di detik-detik terakhir. United pun mendapatkan satu pemain tengah idaman
mereka dengan harga… 27,5 Juta Pound. Deal yang diumumkan beberapa waktu
setelah deadline transfer terlewati.
A happy ending? In the term of
getting a midfield, yeah. Di sisi harga? Not really. Harga Fellaini itu 5 Juta
Pound lebih mahal dari release clause dia yang berakhir pertengahan Agustus
kemarin. Then again, it’s Glazer’s money. Let’s spend it however we like.
Tetap saja, kenapa United tidak
membeli Fellaini jauh-jauh hari (Padahal niat dan uang-nya ada) akan menjadi
sebuah misteri yang rasanya sulit untuk dipecahkan siapapun. Bayangkan jika
Fellaini dibeli sejak, let’s say, sebelum musim dimulai. Kekacauan dan
keabsurd-an hari terakhir semacam ini tidak akan perlu terjadi. And also, he
can play against Liverpool.
Well. This is, in my opinion, the
worst transfer deadline day (and probably window) in years. Manchester United dengan manajemen baru
mereka sukses mengacaukan segalanya. Sesuatu yang membuat banyak orang keheranan
dan banyak fans frustasi.
The bright side? WE SIGNED A
CENTRAL MIDFIELDER!
Friday, July 12, 2013
Harapan Palsu dan Manchester United
Ada satu hal yang tidak bisa dihindari saat seseorang berada
dalam suatu hubungan: Harapan Palsu. Ini sudah muncul dari zaman antah berantah
dahulu kala yang akhirnya menjadi semakin populer setelah era twitter (bukan
orde baru) memberikan singkatan ke kasus yang satu ini: PHP.
Harapan palsu tidak hanya muncul sebelum hubungan itu
tercipta (baca: pas PDKT) tapi juga ada di dalam hubungan itu sendiri. Ada
begitu banyak harapan dan ekspektasi yang muncul setiap kali hubungan benar-benar
tercipta. Dan bisa dipastikan, akan ada banyak yang berujung pada kekecewaan
karena sama sekali tidak terwujud. Not even close.
Sialnya bagi para pecinta sepakbola, peluang untuk terjebak
dalam harapan palsu lebih besar dibandingkan dengan kaum bukan pecinta
sepakbola. Tidak hanya dari gebetan/pacar/suami/istri, klub bola kesayangan
juga secara rutin memberikan penyakit yang satu ini.
Sindrom-nya biasanya memang muncul sepanjang tahun. Namun
penyakitnya terasa jauh lebih parah di sekitar bulan Juni, Juli, dan Agustus.
Saat bursa transfer musim panas Eropa sudah dibuka dan setiap pemain punya hak
untuk pindah ke klub manapun yang ia mau.
Karena saya adalah penggemar Manchester United, mari kita
coba melihat dari sisi klub yang (katanya) memiliki fans terbanyak di dunia
ini.
Thiago Alcantara. Ini adalah nama terakhir yang memberikan
penyakit rutin tahunan untuk para fans United. Setelah berminggu-minggu
dikabarkan akan "segera" bergabung, pemain muda berbakat ini tiba-tiba
diberitakan sudah muncul dan ikut berlatih dengan skuat Barcelona.
Tusukan yang selanjutnya datang lebih dalam lagi. Thiago
nyaris dipastikan akan bergabung dengan manajer lamanya, Pep Guardiola, di
Bayern Munich musim depan. Fans United yang sudah banyak berharap pun dipaksa
untuk gigit jari. (Atau jika jari tidak cukup, bisa juga gigit pintu).
I chose to be a pessimist this time around. And that was the
right choice. Sejak gelombang berita tentang Thiago semakin terasa berlebihan,
saya semakin pesimis deal akan terjadi. This is Ronaldinho all over again.
Beberapa tahun yang lalu, rasa sakit hati karena ditinggal
David Beckham masih terasa saat Manchester United dihubung-hubungkan dengan
Ronaldinho sebagai pengganti. Melihat aksi brilian orang jenius dari Brazil
ini, harapan pun langsung membumbung tinggi. Apalagi, salah satu tabloid
sepakbola di Indonesia sempat memajang cover jersey United bernomor 7 dengan
nama Ronaldinho.
Dan seperti yang kita semua tahu, sang jenius memilih
bergabung dengan Barcelona.
Itu cuma satu contoh. Ada sederet nama lain yang terus
menerus dikabarkan akan bergabung dengan United malah berakhir bertahan di
klubnya atau bergabung dengan klub lain. Wesley Sneijder dan Eden Hazard bisa
menjadi pengalaman buruk lain.
Kehadiran Robin Van Persie musim lalu menjadi sebuah
pengecualian yang luar biasa. Some kind of miracle. Mungkin United harus
berterima kasih pada prestasi Arsenal yang menjalani 7 tahun tanpa gelar dan
berhasil membuat RvP frustasi.
Musim ini, Sir Alex Ferguson sudah tidak ada di bangku
manajer United. Digantikan oleh David Moyes -yang masih berada dalam posisi
antara menjanjikan dan meragukan. Dan United tetaplah United. Setiap media akan
menghubungkan nyaris setiap nama besar yang tersedia di bursa transfer dengan
klub ini.
Artinya? Harapan palsu masih akan bertebaran hingga jendela
transfer ditutup pada tanggal 31 Agustus nanti. And of course, there will be more
and more heartbreak until that point.
Satu-satunya cara adalah dengan tidak berharap banyak.
Menganggap segalanya hanya gosip belaka hingga sang pemain benar-benar
diperkenalkan ke publik secara resmi oleh klub.
Then again, this is a relationship. Kita tidak akan bisa
menahan diri untuk mengharapkan sesuatu. Dan jika itu yang terjadi, maka
siap-siap untuk (lagi-lagi) terluka.
It's really fun being a football fans, eh? ;)
Subscribe to:
Posts (Atom)